Senin 27 Juli 2026 - 16:08
Mengapa Syahadah Imam Husain (as) Dianggap sebagai Penyelamat Umat Manusia dari Kebodohan?

Hawzah / Ziarah Arbain meriwayatkan filosofi perlawanan Imam Husain (as) dalam satu kalimat pendek dari ziarah Arbain; yaitu menyelamatkan hamba-hamba Allah dari kebodohan dan kebingungan kesesatan.

Berita Hawzah – Dalam rangkaian pernyataan Imam Syahid, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei (ra), tentang Arbain Husaini, sebagian dari pernyataan beliau mengenai kedudukan dan pesan-pesan Arbain dipersembahkan kepada para pembaca.

Dalam salah satu ziarah untuk Imam Husain as yang dibaca pada hari Arbain, terdapat satu kalimat yang sangat sarat makna, yaitu:

«وَ بَذَلَ مُهْجَتَهُ فِیکَ لِیَسْتَنْقِذَ عِبَادَکَ مِنَ الْجَهَالَةِ.» 

Filosofi pengorbanan Husain bin Ali as terkandung dalam kalimat ini. Peziarah menyampaikan kepada Allah Yang Maha Tinggi bahwa hamba-Mu ini, Husain-Mu ini, menumpahkan darahnya untuk menyelamatkan manusia dari kebodohan. «وَ حَیْرَةِ الضَّلَالَةِ» untuk menyelamatkan manusia dari kebingungan dan kegelisahan yang ada dalam kesesatan.

Lihatlah, betapa padat makna kalimat ini dan betapa tinggi serta maju konsep yang dikandungnya.

Masalahnya adalah bahwa umat manusia senantiasa menjadi korban tipu daya setan-setan. Selalu ada setan-setan besar dan kecil yang, untuk mencapai tujuan-tujuan mereka, mengorbankan manusia, khalayak ramai, dan bangsa-bangsa.

Dalam sejarah masa lalu pun Anda telah membaca hal ini, baik kisah para penguasa zalim dan tiran serta perilaku mereka terhadap bangsa-bangsa, maupun Anda telah melihat keadaan dunia saat ini dan cara-cara kekuatan-kekuatan besar.

Manusia terjerumus ke dalam bujukan dan tipu daya setan-setan. Manusia harus dibantu, hamba-hamba Allah harus diberikan pertolongan, agar mereka mampu menyelamatkan diri dari kebodohan dan terbebas dari kebingungan serta kesesatan.

Siapa yang dapat mengulurkan tangan pertolongan ini kepada umat manusia?

Mereka yang terikat pada kepentingan-kepentingan duniawi, hawa nafsu, dan syahwat, tidak akan mampu; karena mereka sendiri sesat.

Mereka yang terperangkap dalam keegoisan dan kepentingan pribadi, tidak akan mampu menyelamatkan manusia; harus ada seseorang yang muncul dan menyelamatkan dirinya terlebih dahulu; dengan pertolongan Allah, ia mendatangi mereka dan mampu membebaskan dirinya sendiri.

Orang yang dapat menyelamatkan manusia adalah orang yang memiliki sikap lapang dada, mengutamakan orang lain; mampu berkorban dan meninggalkan syahwat; mampu keluar dari keakuan, kesombongan, keegoisan, ketamakan, hawa nafsu, iri hati, kekikiran, dan segala belenggu lain yang biasanya dihadapi manusia, sehingga ia dapat menyalakan pelita di hadapan orang lain.

Sumber: Pidato Imam Syahid, Yang Mulia Ayatullah Khamenei,12 September 1990 M.

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha